Toko Roti itu masih ada

Di jalan braga kota bandung, ada sebuah toko roti yang berumur cukup lama, gimana gak disebut berumur lama, karena toko roti itu sudah ada sejak aku duduk di bangku SD, dan sampai sekarang pun toko roti itu masih ada.

Dulu ketika aku SD, aku kerap kali mengunjungi toko itu, bukan karena aku menyukai rasa rotinya, namun karena aku tidak punya pilihan. Ya, tidak punya pilihan…!

Jika aku ingin makan roti enak, aku harus mengumpulkan sisa uang jajan yang diberikan ibuku, uang jajan ku saat itu hanya Rp. 25,-. Terkadang aku tidak jajan disekolah, karena aku harus mengumpulkan uang hingga 100 rupiah.

Disebut tidak ada pilihan, karena aku kalau ke toko roti itu selalu harus jam 6 pagi. Berjalan kaki dari rumah di jalan haruman (daerah burangrang), melewati simpang lima, terus menyusuri jalan asia afrika, berbelok kanan, tibalah di jalan braga. Aku harus datang sebelum toko itu buka. Dengan badan berkeringat, dengan sabar aku menanti pegawai toko roti itu datang, dan biasanya begitu mereka datang, diantara mereka sudah ada yang mengenali aku. 

“Nah itu dia datang”, aku tersenyum, lalu si mbak itu menyapa, “biasa ya dik? sebentar saya ambilkan dulu”. Tak seberapa lama kemudian, si mbak datang dengan sebungkus plastik berisikan potongan2 kulit luar roti, yang seharusnya akan dibuang karena bagian itu agak keras. Agak keras buat orang lain, tapi buatku itu adalah roti enak yang mampu aku beli. Dengan sukacita aku terima bungkusan roti tadi, lalu aku serahkan uang 100 rupiah yang aku kumpulkan.

Sepanjang jalan pulang, aku cicipi roti itu sedikit-sedikit, dan memang potongan nya juga kecil-kecil, betapa nikmat nya kala itu. Bahkan terkadang aku awet-awet, hingga potongan roti itu bisa bertahan sampai 3 hari di tas sekolah ku. Ah, kenangan yang begitu manis untuk dikenang…

Kenangan yang manis, sampai-sampai aku tulis dalam buku harianku. Dan ketika berpuluh tahun kemudian aku kembali membaca lembaran ini, aku membacanya dengan mata berkaca-kaca, lalu aku tambahkan dibagian bawah tulisan itu, “suatu saat nanti, aku harus mengajak anak2 ku datang ke toko roti itu, aku akan bebaskan anak2 memilih apapun roti kesukaan nya, tanpa harus berfikir berapa rupiah yang harus dibayarkan, apalagi harus mengumpulkan uang dari sisa jajan sekolah seperti ayahnya dulu.”

Maka begitu ada kesempatan libur kejepit, long weekend, aku ajak istri dan anak2ku ke kota bandung, lalu sengaja aku cari hotel yang ada di jalan braga. Ketika pagi menjelang, aku bangunkan anak2, dan aku minta jangan breakfast di hotel, “kita jalan yuk, menyusuri jalan braga di pagi hari”, begitu ujarku kepada anak2.

Sambil berjalan sepanjang jalan braga, aku ceritakan pengalaman ku dulu saat akan membeli seplastik roti. Tanpa terasa tibalah di toko roti itu, tidak begitu banyak yang berubah pada interiornya, dan entah kenapa aku terkenang kembali peristiwa ketika kecil dulu. Aku melihat-lihat, apakah pegawai yang dulu kerap melayani aku masih bekerja kah? Tapi mungkin sudah tidak bekerja lagi, karena sekarang semua pegawainya masih muda.

“Kaka, ade… ambil saja roti sesuka kalian, boleh bawa juga buat oleh-oleh”, sambil sedikit bangga aku hampiri kasir, “berapa semuanya?”

Ya Allah, akhirnya satu lagi aku bisa memenuhi janji ku, suatu saat nanti, aku akan mengulangi jejak langkah ku, dalam kondisi tidak berkekurangan. Alhamdulillah….

Reza Widyaprasta

Author

Scroll to Top