Mewujudkan sesuatu yang tidak mungkin dan sulit ditembus, lakukanlah bayar dimuka dengan sedekah. Bersedekah itu ibarat kita menanam investasi kepada Allah. “Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (QS Al-Baqarah [2]:245).
Orang yang kaya harus memberikan nafkah sesuai kemampuannya, dan orang yang miskin tetap diharuskan memberi nafkah dari harta yang diberikan. Jangan lagi berkata, ‘sedekah sedikit saja, yang penting ikhlas’. Mengapa kita bersedekah recehan, atau menafkahkan sekedarnya saja? Seperti nya Allah itu miskin, sehingga tidak mampu membalas sedekah kita? Padahal Allah pemilik Alam Semesta ini, Maha Pemberi Rizki. “Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Ma’idah [5]:120)
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS At-Talaq [65]:7).
Allah akan memberi ganjaran 700x bagi siapa yang Dia kehendaki. “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]:261).
Memberi itu jangan dipilih-pilih, jangan memberi sesuatu yang buruk, yang bahkan kita sendiri pun tidak mau memanfaatkan nya. “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji” (QS Al-Baqarah [2]:267).
- Namun yang harus diingat, yang sunnah jangan sampai mengalahkan yang wajib. Jangan karena ingin membayar dimuka dengan sedekah, lalu kita mengabaikan kewajiban. Misalnya di saku kita hanya memiliki uang 100 ribu yang ditunggu anak-istri untuk makan hari itu, namun karena ingat sedekah, uang 100 ribu itu pun disedekahkan, itu zalim namanya!
- Lalu, apa sedekahnya sebuah aktivitas? Yaitu berfikir benar, berkata benar, berperasaan dengan dasar kebenaran, bertindak di atas dan menuju kebenaran. Sesuatu yang jelas-jelas menghasilkan kebaikan. Bekerja mencari nafkah untuk keluarga merupakan amal sholeh yang juga dinilai sebagai sedekah. Allah akan memberikan keberkahan pada setiap nafkah yang diberikan kepada keluarganya, bahkan jika seseorang wafat ketika sedang bekerja mencari nafkah, maka wafatnya adalah syahid.
“Engkau menahan diri (untuk tidak) melakukan keburukan terhadap manusia, sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri” (HR Bukhari dan Muslim)
tidak itu saja, bahkan jika kita menjauhi atau dengan tegas menolak suatu perbuatan yang berpotensi terkena dosa besar, selain itu menghasilkan sebuah kebaikan bagi diri kita, menciptakan keberkahan bagi kehidupan kita, Allah pun akan menghapus kesalahan-kesalahan kita.
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”
(QS An-Nisa’ [4]:31)