Saat-saat menjelang Hari Lebaran adalah saat-saat yang penuh kenangan. Teringat ketika kecil dulu, terutama saat-saat aku SD dan tinggal di kota kecil Cirebon, keluarga kami hampir tiap tahun tidak pernah punya budget lebih untuk mengadakan baju baru buat berlebaran, apalagi membeli sepatu, tas atau kebutuhan lebaran lainnya. Maklumlah orang-tua kami hidup pas-pasan, dimana harus membiayai 5 orang anak-anaknya, dan untuk itu pun Ibu harus mencari uang tambahan dengan mengajar senam yoga di rumah kecil kami, yang disulap menjadi studio senam.
Teringat jelas dalam ingatan, hampir tiap lebaran kami baru mencari baju baru saat malam takbiran. Berjalan bersama Ibu dan adik-adik, menyusuri trotoar pertokoan, berjalan kaki…. cari sana cari sini, keluar masuk toko, maklumlah saat itu tahun 70-80an, tidak banyak toko yang buka di malam takbiran. Sebagian besar toko-toko di kota kami sudah tutup sebelum malam takbiran, mungkin untuk memberi kesempatan kepada para pegawainya pulang kampung, atau merayakan malam takbiran.
Dulu, aku sering tak habis pikir, kenapa Ibu harus repot-repot keluar masuk banyak toko, mencari baju lebaran yang pas buat kami. Kini, baru aku mengerti, mungkin saat itu uang Ibu pas-pasan, dan Ibu harus mengatur agar uangnya cukup untuk kami berlima. Mungkin Ibu cari baju yang sedikit murah, agar bisa membeli sedikit lebih banyak baju atau sepatu buat kami anak-anaknya…. Ah, dapat dibayangkan, betapa bingungnya Ibu manakala dia mendapatkan baju yang cocok untuk anaknya, namun harganya tidak cocok untuk isi dompetnya. Seandainya saat itu aku sudah bisa mencari uang sendiri, pasti Ibu tidak akan sebingung itu….
Aku pun kini baru mengerti, mengapa Ibu baru mengajak kami membeli baju lebaran di malam takbiran, karena saat itu Ayah menanti pemberian THR dari saudara-saudaranya, menunggu belas kasihan orang lain, menunggu seseorang membagi hartanya untuk keluarga kami…. Terbayang juga, bagaimana Ayah harus mendatangi saudara dan kerabatnya, sambil berharap mendapat perhatian dan pemberian, karena aku tahu persis, Ayah paling tidak bisa meminta-minta, tapi tuntutan saat itu, dia rela datang ke rumah orang lain, dan mungkin Ayah berkata, “di rumah, anak-anak belum punya baju lebaran…, kasihan mereka ingin berlebaran juga…”
Baju Lebaran, Malam Takbiran, Hari Idul Fitri, menyimpan kenangan tersendiri dalam hidupku…., semoga Allah SWT selalu menyayangi kedua orang tua kami, aammiinn…….