Setiap ayah pasti punya cerita tentang pengalaman nya mengajari tentang sesuatu hal kepada anaknya. Jika tidak ada pengalaman itu, lalu apa gunanya predikat ayah? Hehee…
Buat aku sendiri, ada hal yang aku banggakan dalam mengajari anak-anak. Kenapa harus bangga, karena setahu aku, tidak semua ayah melakukan itu.
Ini bercermin dari kejadian ketika aku kecil dulu. Tau kan, salah satu kebanggaan setiap anak kecil adalah saat dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Aku pun sama, teringat beberapa kali ayah membelikan sepeda, dan saat itu betapa gembiranya aku, bahkan lucunya saat belum bisa naik sepeda, aku tetap menggunakannya, sepeda itu di dorong-dorong, kesana-kemari, berputar-putar, tapi tidak dinaikin.
Tapi sepanjang TK 2 tahun, SD 6 tahun, tahukah kawan, aku tidak pernah bisa naik sepeda roda dua. Serius, selama itu gak bisa naik sepeda roda dua!!! Tidak ada seorang pun yang mau mengajariku belajar naik sepeda… Aku baru bisa naik sepeda saat SMP, itu pun belajar sendiri dengan berpegangan pada dinding gang di jalan masuk rumahku (rumahku saat itu memang di dalam gang yang sempit).
Pengalaman yang sangat berbekas itu, membuat komitmen yang kuat pada diriku. Dan ketika anak2ku mulai masuk sekolah, aku belikan mereka sepeda satu-satu, sepeda roda dua!
Aku penuhi komitmen itu, aku luangkan waktu di hari Sabtu-Minggu, mengajari anak laki-laki dan anak perempuan ku belajar sepeda roda dua…
Aku pegangin buntut sepedanya, aku berlari-lari kecil dibelakangnya, aku berteriak, “kayuh terus, kayuh terus…“, dan ternyata mengajari anak sepeda itu tidak lama, cukup 2 hari saja, anak-anak sudah mampu naik sepeda roda dua.
Teringat saat anak perempuan-ku Arvy belajar naik sepeda, ketika aku pegang sepeda nya, lalu seperti mengajari kakaknya Arvel, aku berteriak “kayuh terus, kayuh terus…”, diam-diam aku lepaskan pegangan ku, membiarkan sepeda berjalan terus, semakin jauh Arvy mengayuh sendiri (tanpa dia sadari), dan saat itu angin berhembus kencang, rambut ikal anakku tertiup angin, lalu berkibar diatas sepeda, dan aku melihat dari kejauhan… masya Allah senang nya hati ini, anakku Arvy sudah bisa naik sepeda.
Keringat yang mengalir, rasanya tidak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan, bahwa aku ayahnya telah berhasil mengajari anak-anaknya naik sepeda roda dua…, dan aku yakin tidak semua ayah melakukan itu!
Sudahkah anda mengajari anak-anak sesuatu yang akan melekat sepanjang hidupnya?